Pages

SDN 04 V Koto Timur

Tampak Depan.

SDN 04 V Koto Timur

Halaman Depan Sekaligus Tempat Upacara Bendera dan Sarana Bermain Anak.

SDN 04 V Koto Timur

Halaman Depan Sekaligus Tempat Upacara Bendera dan Sarana Bermain Anak.

SDN 04 V Koto Timur

Halaman Depan Sekaligus Tempat Upacara Bendera dan Sarana Bermain Anak.

SDN 04 V Koto Timur

Guru dan Murid.

Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 April 2014

LEGENDA SUNGAI LUSI

Di Kota Blora ada sebuah sungai yang melingkari kota. Sungai itu berada di sebelah timur kota Blora, mengalir dari utara ke selatan, kemudian berbelok ke arah barat. Sungai itu mengalir terus ke barat, masuk ke wilayah Purwodadi dan akhirnya bertemu dengan Sungai Serang. Sungai itu adalah sungai Lusi. Bagaimanakah kisah terjadinya sungai Lusi? Ikutilah kisah dibawah ini.
Pada zaman Prabu Sri Jayabaya, raja yang bertakhta di Kediri, ada tiga orang pengembara yang bernama Ki MRanggi, Parta Gendul, dan Parta Balung. Setelah sekian lama mengembara meninggalkan Kediri, mereka berhenti di sebuah hutan di Gunung Butak yang banyak ditumbuhi pohon jati. Ki Mranggi melihat seputar tempat tersebut dan merasa cocok untuk tinggal di situ.
“Aku rasa tempat ini cocok untuk tempat tinggal. Bagaimana pendapatmu Parta Gendul?” Tanya Ki Mranggi kepada Parta Gendul.
“Saya setuju saja Ki Mranggi,” jawab Parta Gendul.
“Dan kamu Parta Balung, apakah juga setuju kalau kita tinggal disini?” Ki Mranggi memandangi Parta Balung minta pendapat.
“Saya kira saya bisa menyetujuinya Ki MRanggi,” jawab Parta Balung.
Akhirnya, mereka bertiga memutuskan untuk tinggal di hutan yang terletak di Gunung Butak.
Ternyata di tempat itu juga sudah ada penghuninya sebelum mereka bertiga datang. Dia adalah Ki Bahurena. Ketika Ki Bahurena berjalan menuju mata air, ia melihat tiga orang yang sedang membangun rumah sederhana di dalam hutan.
Ki Bahurena mendekati dan berkata,” Perkenalkan, aku Ki Bahurena. Apakah kalian mau tinggal di sini? Aku senang kalau kalian bertiga tinggal di sini sehingga aku mempunyai tetangga. “Lalu Ki Bahurena menyalamai Ki MRanggi, Parta Gendul dan Parta Balung.
“Terima kasih Ki Bahurena. Kami memang kan berdiam di Gunung Butak ini. Kami bertiga berasal dari Kediri,” jawab Ki MRanggi. Lalu Ki Mranggi memperkenalkan dirinya dan kedua temannya, Parta Gendul dan Parta Balung.
“Kalau kalian mau tinggal di sini silakan. Bukankah semua tanah di muka bumi ini milik TUhan? Jadi, siapa saja boleh tinggal di sini asalkan berniat baik dan tidak mengganggu makhluk yang ada di sini, baik pohon maupun hewan.”
“Baik Ki Bahurena. Kami akan jaga selalu pesan itu,” mereka bertiga mennjawab bersamaan.
Mereka bertiga tinggal di hutan Gunung Butak dengan senang dan damai. Ki Mranggi berpesan kepada Parta Gendul dan Parta Balung.
“Segala sesuatu yang kalian kerjakan hendaknya memberitahu aku dulu. Sebab akulah yang membawa kalian kemari dan lagi kita di sini masih baru belum tahu seluk-beluk daerah ini. Dan ingatlah selalu pesan Ki Bahurena itu”.
Pada suatu hari, Parta Balung ingin membuat perahu. Lalu Parta Balung berkeliling di sekitar tempat tinggalnya, matanya tertuju pada pohon suren. “Inilah pohon yang saya cari-cari untuk membuat perahu,”katanya dalam hati. Parta Balung menebang pohon suren. Semua yang dilakukan oleh Parta Balung itu tanpa sepengetahuan Ki Mranggi.
Setelah pohon suren di tebang, mulailah Parta Balung membuat perahu. Belum sempat menyelesaikan perahunya, tiba-tiba turun hujan deras di sertai angin rebut sehari semalam lamanya. Di tengah hujan dan angin ribut itu, tiba-tiba muncul seekor ular naga. Ular naga tersebut berjalan di dalam tanah, dan muncul gundukan tanah seperti bukit pada bekas jalannya. Tanah yang di lewati ular naga itu longsor dan longsoran tanah itu berubah menjadi aliran lumpur dan akhirnya terjadi banjir lumpur. Semua benda yang di terjang banjir lumpur itu roboh, pohon-pohon jati bertumbangan dan hutan menjadi rusak. Rumah-rumah penduduk di kaki Gunung Butak tidak luput dari amukan banjir lumpur itu, demikian juga rumah Ki Mranggi dan Ki Bahurena.
Ki Mranggi melihat di sekitar rumahnya dan disekitar hutan, ternyata telah rusak semua. Lalu ia berkata.
“Tempat ini telah rusak di terjang banjir lumpur. Oleh karena itu, tempat ini akan di namakan Desa Coban sebab di sini aku mendapat cobaan dari Tuhan.”
Lalu Ki Mranggi mencari ular yang telah membuat kerusakan parah itu. “Parta Gendul dan Parta Balung, kalian jangan pergi meninggalkan rumah ini. Walaupun sudah rusak kalian harus tetap jaga rumah ini. Aku akan pergi,” kata Ki Mranggi.
“Ki Mranggi akan pergi kemana?” Tanya Parta Gendul dan Parta Balung serempak.
“Aku mencari tempat tinggal ular naga yang telah merusak semuanya ini.”
“Baiklah Ki Mranggi, kami berdua akan tetap di sini. Hati-hatilah semoga berhasil.”
“Terima kasih. Aku segera pergi.”
Pencarian Ki Mranggi tidak membawa hasil. Ia gagal mendapatkan ular naga yang sudah menimbulkan kerusakan.
“Hampir putus asa aku. Sudah berjalan ke sana kemari, tidak dapat aku temukan ular naga itu. Aku harus mencari bantuan,” kata Ki Mranggi dalam hatinya.
Lalu ia mencari bantuan ke Syekh Jatikusuma yang bertapa di puncak Gunung Butak. Perjalanan menuju Gunung Butak harus mendaki dan menerobos hutan yang lebat. Perjalanan yang sangat melelahkan! Namun, demi tekad untuk memperoleh bantuan, segala jerih lelah tidak dirasakan oleh Ki Mranggi.
“Ada perlu apa saudara datang kemari?” kata Syekh Jatikusuma kepada Ki Mranggi yang mendatanginya di pertapaan.
“Aku datang ke pertapaan Syekh untuk memohon bantuan,” kata Ki Mranggi.
“Ada persoalan apa dan apa yang dapat saya lakukan? Kalau aku bisa, pasti aku membantumu, “jawab Syekh Jatikusuma.
“Begini Syekh Jatikusuma. Beberapa waktu yang lalu, di tempat aku tinggal di kaki Gunung Butak terjadi banjir lumpur. Banjir lumpur itu terjadi karena ulah ular naga yang berjalan di dalam tanah. Aku sudah mengejarnya berhari-hari, tetapi tidak menemukannya. Karena itu, aku datang ke sini mohon pertolongan Syekh.”
“Ya, sekarang aku mengerti. Aku akan menolongmu.”
Kemudian Syekh Jatikusuma meninggalkan Ki Mranggi. Ia mengambil pusaka Kiai Akik Ampal Bumi. Ia menjumpai kembali Ki Mranggi yang tertegun melihat pusaka yang di pegang oelh Syekh Jatikusuma.
“Keris apa itu?” Tanya Ki Mranggi penuh keheranan.
“ini keris pusaka Kiai Akik Ampal Bumi. Dengan pusaka ini, aku dapat menemukan tempat ular naga berada.”
Lalu Syekh Jatikusuma menancapkan pusaka itu di puncak Gunung Butak dan terbukalah puncak Gunung Butak itu. Di dalamnya ular naga sedang tidur pulas, tampak jinak dan tidak ganas. Namun, tiba-tiba datang angin ribut dan hujan deras yang berlangsung sampai beberapa hari.
Setelah hujan reda, di puncak Gunung Butak muncul beberapa mata air. Melihat munculnya beberapa mata air, Ki Mranggi terkejut dan bertanya kepada Syekh Jatikusuma.
“Dari manakah munculnya mata air itu dan akan mengalir kemanakah air itu?”
Syekh Jatikusuma dengan tenang dan yakin menjawab, “Lihatlah dan perhatikan saja ke mana airnya mengalir, kamu nanti akan mengerti.”
Mata air yang airnya mengalir ke timur dinamakan Sungai Kesemen melewati Desa Tahunan, Bangilan, dan terus ke Bojonegoro. Air yang mengalir kea rah barat menjadi Sungai Brubulan. Air yang mengalir kea rah utara menjadi sungai Mudal melewati daerah Pamotan. Sementara itu, mata air yang airnya mengalir ke arah selatan melalui Desa Gunung Kajar terus ke BLora dinamakan Sungai Lusi. Mengapa? Sebab daerah yang di lalui air tersebut tanahnya menjadi longsor dan para penduduknya mencari selamat atau mengungsi. Mengungsi dalam bahasa Jawa Kuno disebut ngusi. Dari kata ngusi itulah lahir nama Sungai Lusi.
Setelah melihat peristiwa itu. Ki Mranggi pulang ke rumahnya dan hidup seperti sedia kala. Ia hidup bersama Parta Gendul dan Parta Balung serta hidup berdampingan dengan Ki Bahurena. Setelah kematian Ki Mranggi, makamnya banyak di ziarahi dan makam itu di sebut sebagai Pundhen Mranggi sedangkan makam Ki Bahurena di sebut sebagai Pundhen Bahurena.


Dikutip Dari Buku :
Edi Sumartono (PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 2009)

PUSAKA WULU DOMBA PANCAL PANGGUNG

Setelah Sultan Hadiwijaya dapat mengalahkan Arya Penangsang pada tahun 1549, wilayah Jipang Panolan menjadi daerah kekuasaan Pajang. Sultan Hadiwijaya menyerahkan Jipang Panolan kepada anaknya yang bernama Pangeran Benawa.
“Anakku Benawa, setelah Arya Penangsang kalah, Pajanglah yang berkuasa atas Jipang Panolan. Dan aku ingin agar kau yang menjadi Adipati Jipang Panolan,”titah Sultan Hadiwijaya kepada anaknya.
“Mengapa harus aku, ayahanda Sultan?”
“Dengarlah anakku, Jipang Panolan yang berada di tepi Bengawan itu menjadi urat nadi perdagangan, Jipang juga merupakan daerah perbatasan dengan Surabaya yang sedang melebarkan sayapnya ke barat. Jipang Panolan dan sekitarnya merupakan daerah penghasil kayu jati terbaik. Alasan-alasan itulah yang membuat aku menyerahkan Jipang Panolan kepadamu anakku, bukan kepada orang lain.”
Beberapa hari kemudian Pangeran Benawa berangkat ke Jipang Panolan dan menjadi Adipati di sana. Baik kadipaten Jipang Panolan, maupun Kota Raja Pajang dalam keadaan damai, dan tidak ada peperangan. Namun, setelah pajang dikalahkan oelh Sutawijaya, kekuasaan Pajang redup dan berpindah ke Mataram. Kekalahan Pajang dari Mataram itu membuat Sultan Hadiwijaya memanggil anaknya, Benawa, dan menyerahkan Wulu Domba Pancal Panggung, yang merupakan kumpulan pusaka Pajang kepada Pangeran Benawa.
“Anakku Benawa, terimalah Wulu Domba Pancal Panggung ini dan selamatkanlah pusaka Pajang ini.”
Sultan Hadiwijaya menyerahkan guci buatan Cina yang berisi pusaka Pajang kepada Pangeran Benawa.
“Doakanlah ayahanda agar anakmu dapat menyelamatkan Pusaka Pajang,”Pangeran Benawa dengan gemetar dan terharu menerima guci itu.
“Segeralah kembali ke Jipang Panolan sebelum prajurit Mataram memorakporandakan Pajang. Pergilah. Pergilah anakku. Jadikanlah Jipang Panolan sebagai tempat yang makmur dan damai,”suara sendu keluar dari derita Sultan Hadiwijaya.
Pangeran Benawa segera meninggalkan Pajang dengan  perasaan terharu, air matanya bercucuran merasakan penderitaan ayahnya Sultan Hadiwijaya. Pangeran Benawa mewujudkan pesan ayahnya untuk mengembangkan Jipang Panolan menjadi tempat yang makmur dan damai.
Daerah Jipang Panolan mulai berkembang pesat. Perkembangan itu membuat iri Kadipaten Rajekwesi yang berada di sebelah timur Jipang Panolan, yang dibatasi oleh Bengawan.
Adipati Rajekwesi yang iri terhadap Jipang Panolan itu berencana menghancurkan Jipang Panolan.
“Hai Patih, apakah kau sudah tahu, sekarang ini Kadipaten Jipang Panolan menjadi makmur. Apa yang menyebabkan kemakmurannya itu?” Tanya Adipati Rajekwesi kepada patihnya.
“Hamba dengar seluruh rakyat Jipang Panolan bekerja dengan keras, demikian juga adipatinya, Pangeran Benawa,”jawab si Patih.
“Hamba dengan Jipang Panolan memiliki pusaka sakti dari Pajang. Konon kabarnya, pusaka itu pemberian Sultan Hadiwijaya,”sambung Ki Demang menambah penjelasan Patih kepada Adipati Rajekwesi.
“Lalu apa yang harus aku perbuat Demang, agar Jipang Panolan tidak bertambah makmur? Katakanlah usulmu kepadaku!” ujar Adipati Rajekwesi.
“Curilah pusaka itu Kanjeng Adipati!” seru Ki Demang dengan mantap.
“Apa? Mencuri pusaka Jipang Panolan?” Hampir tidak percaya Adipati Rajekwesi mendengar usul Ki Demang.
Akhirnya, Adipati setuju dengan usul Ki Demang dan ia menyuruh Patih untuk menyiapkan prajurit pilihan yang diberi tugas untuk menyiapkan prajurit pilihan yang diberi tugas untuk menyiapkan prajurit pilihan mencuri pusaka Jipang Panolan. Prajurit pilihan itu berhasil mencuri pusaka Jipang Panolan.
Pada suatu pagi, ketika para prajurit Jipang Panolan yang berutgas  menjaga pusaka memeriksa tempat penyimpanan pusaka, mereka sangat kaget melihat pusaka Jipang Panolan tidak ada di tempatnya.
Ketika Pangeran Benawa sedang membicarakan kehidupan rakyat Jipang Panolan bersama Patih dan kedua saudaranya (Pangeran Jati Kusuma dan Pangeran Jati Swara), datanglah dua orang prajurit melaporkan peristiwa hilangnya pusaka Wulu Domba Pancal Panggung.
Dengan tenang Pangeran Benawa mendengarkan cerita prajurit penjaga pusaka Kadipaten Jipang Panolan tentang lenyapnya pusaka Wulu Domba Pancal Panggung itu.
“Aku sudah mengerti semuanya. Yang penting saat ini adalah mencari dan menemukan pusaka itu. Karena yang bisa mencuri pusaka Wulu Domba Pancal Panggung itu adalah orang yang sakti. Oelh karena itu, aku perintahkan kedua adikku, Pangeran Jati Kusuma dan Pangeran Jaati Swara untuk mencarinya. Apakah kalian bersedia?” Tanya Pangeran Benawa kepada kedua adiknya.
“Kami berdua siap kakanda,” jawab Pangeran Jati Kusuma dan Pangeran Jati Swara serempak.
“Apa pun halangannya harus kami hadapi, apalagi yang kita cari pusaka warisan ayahanda Sultan,” ujar Pangeran Jati Kusuma.
“Kami mohon pamit dan mohon restu kakanda,” Pangeran Jati Swara menghaturkan sembah.
“Baiklah. Segeralah pergi. Dengan kesaktian kalian berdua, aku yakin pusaka itu dapat ditemukan kembali.”
Pangeran Benawa memeluk kedua adiknya.
Pangeran Jati Swara dan Pangeran Jati Kusuma meninggalkan Kadipaten Jipang Panolan dan pergi melaksanakn tugas mencari pusaka yang hilang. Mereka masuk hutan, mendaki gunung, menuruni lembah, menyeberangi sungai, bertanya di kampung-kampung dan desa-desa. Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan untuk menemukan pusaka Wulu Domba Pancal Panggung tersebut. Dalam perjalan mereka, Pangeran Jati Swara dan Pangeran Jati Kusuma sering menolong orang lain yang kesulitan dan yang mengalami penderitaan.
“Mari Pak, kami bantu memikul kayu jati yang berat ini,” Pangeran Jati Swara dan Pangeran Jati Kusuma menolong seorang bapak tua yang kelelehan memikul kayu jati.
“Terima kasih, anak muda. Siapa sebenarnya kalian berdua ini?” Tanya Pak Tua.
“Kami ini pengembara Pak Tua,” jawab Pangeran Jati Kusuma.
“Pak Tua kami sedang menjalankan tugas dari kakak kami untuk mencari pusaka yang hilang,” PAngeran Jati Swara menambahkan.
“Terima kasih anak muda. Singgahlah di rumah saya sebentar,” ajak Pak Tua ketika sampai dirumahnya.
“Terima kasih Pak Tua, kami harus meneruskan perjalanan. Mungkin peda kesempatan lain kami akan singgah,” kata kedua Pangeran itu dengan sopan dan halus menolak ajakan Pak Tua.
“Aku doakan kalian berdua berhasil menemukan pusaka kalian yang hilang,” kata Pak Tua sambil menyerahkan bungkusan yang berisi makanan yang diambil dari dalam rumah.
Pada kesempatan lain, kedua pengeran itu juga menolok anak kijang yang terjerat kakinya oelh ulah pemburu. Ketika melihat telur-telur burung merak yang tergeletak di jalan. Kedua pangeran itu membuatkan sarang dari rumput dan meletakan telur itu kedalam sarangnya, lalu sarang itu diletakan jauh dari jalan agar tidak terinjak.
Pangeran Jati Swara dan Pangeran Jati Kusuma selama berjalan dalam hutan tidak menebang pohon atau merusak pohon-pohon yang rimbun di hutan. Tidak segan-segan kedua pengeran itu menegur dan menasehati orang-orang yang  menebang pohon secara berlebihan dan tidak mau menanam pohon kembali.
Kebaikan hati Pangeran Jati Swara dan Pangeran Jati Kusuma diketahui penduduk yang tinggal di sepanjang perkampungan yang dilalui kedua pangeran. Dalam perjalanan itu mereka mendapat empat orang sahabat.
“Bolehkah saya berguru dan menyertai perjalanan Pangeran dalam mencari pusaka?” Tanya seorang pemuda yang tegap.
“Kalau itu keinginanmu, kami tidak bisa menolak,” jawab Pangeran Jati Kusuma.
“Jika kamu ikut kami, harus mamu menolong semua makhluk hidup yang mengalami penderitaan dan kesusahan, baik itu manusia, hewan maupun tumbuhan. Apakah kamu bersedia?” Pangeran Jati Swara ingin mengetahui ketulusan hati pemuda yang tegap itu.
“Saya bersedia. Bahkan kalau boleh saya mengajak tiga teman saya.”
“Baiklah, kami bisa menerimanya,” jawab Pangeran Jati Kusuma.
Mereka berenam kemudian meneruskan perjalanan dan sampailah mereka di desa Janjang yang terletak di atas sebuah bukit. Di desa itu lah mereka menemukan pusaka Wulu Domba Pancal Panggung yang hilang. Namun, setelah menemukan pusaka itu, Pangeran Jati Swara dan Pangeran Jati Kusuma tidak kembali ke Jipang Panolan sebab Pangeran Benawa kembali ke Pajang. Dan kekuasaan Pajang telah diserahkan kepada Sutawijaya di Mataram. Mereka berenam menetap di desa tersebut.
Setelah beberapa saat Pangeran Jati Swara dan Pangeran Jati Kusuma beserta empat muridnya tinggal di desa Janjang, ada seorang putrid bernama Rondo Kuning yang tergila-gila dan ingin dijadikan istri oleh Pangeran Jati Swara dan Pangeran Jati Kusuma. Namun, dengan halus dan sopan Pangeran Jati Swara dan Pangeran Jati Kusuma dapat menolak keinginan Rondo Kuning. Akhirnya, Rondo Kuning menjadi murid Pangeran Jati Swara dan Pangeran Jati Kusuma.
Pangeran Jati Kusuma dan Pangeran Jati Swara bersama keempat sahabatnya mengajarkan kepada penduduk di sekitar tempat tinggalnya berbagai kebajikan dan pengetahuan yang berguna serta menanamkan rasa cinta kepada alam dan sesama. Kedua pangeran itu juga menyebarkan agama Islam di daerah itu.
“Kita harus juga bersyukur kepada Tuhan yang memberikan rezeki setiap hari.”
“Bagaimana caranya Pangeran?” Tanya seorang ibu.
“Janganlah kalian menyisakan makanan setiap kali makan, dan kalau ada sisa, makanan itu harus diberikan kepada ayam atau binatang lainnya,” jawab Pangeran Jati Kusuma.
“Ingatlah semua jaran kami dan lakukanlah,” Pangeran Jati Swara menambahkan.
Lambat laun tempat tinggal kedua pangeran itu bersama murid-muridnya menjadi desa yang maju dan berkembang. Banyak penduduk sekitar hutan menetap bersama Pangera Jati Swara dan Pangeran Jati Kusuma di desa tersebut. Akhirnya, kedua pangeran itu meninggal dunia dan dimakamkan di Janjang. Demikian juga keempat muridnya dan Rondo Kuning juga dimakamkan dalam satu kompleks dengan Pangeran Jati Kusuma dan Pangeran Jati Swara yang masih dipelihara sampai hari ini adalah temapt sholat, wayang krucil dan padasan atau tempat air untuk wudu. Semua peninggalan itu masih dirawat dan dipelihara dengan baik oleh penduduk desa Janjang. Selain itu, penduduk desa Janjang sampai hari ini tetap menghargai Pangeran Jati Swara dan Pangeran Jati Kusuma serta melaksanakan ajarannya. Penghargaan itu diwujudkan dengan ucapan syukur kepada Tuhan dalam bentuk wujud Sedekah Bumi Manganan Janjang yang diadakan setiap tahun pada hari Jum’at Pon di bulan sapar dalam penanggalan Jawa.


Dikutip Dari Buku :
Edi Sumartono (PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 2009)

Arung Bondan



Alkisah ada seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa, Aarung Bondan namanya. Tidak seperti pemuda-pemuda lain yang gemar berburu binatang di hutan, memancing di sungai atau berlatih menggunakan senjata, Arung Bondan suka berguru pada orang-orang pintar dan bertapa memohon kemurahan dewata.
Pada suatu hari, Arung Bondan memohon do’a restu pada bapak ibunya meninggalkan Medang Kamulan untuk belajar pada seorang guru yang sakti. Ia berlayar menyeberangi selat yang memisahkan Pulau Majeti dan Pulau Jawa. Pulau Majeti berada di sebelah utara Pulau Jawadipa. Setelah mendarat di Pulau Majeti, Arung Bondan pergi ke Kaling dan menjumpai guru yang pandai.
“Bapak Guru, terimalah hamba ini sebagai murid. Hamba ingin menjadi orang yang pandai,” Arung Bondan menyampaikan maksudnya kepada seorang Guru yang pandai di Kaling.
“Baiklah, aku akan menerima kau sebagai muridku asalkan kau rajin belajar dan tidak malas. Dan setelah kau memiliki ilmu, kau harus mengamalkan dalam hidupmu. Apakah kau bersedia menerima syarat itu?” Tanya sang guru.
“Hamba bersedia Bapak Guru.”
Selama di Kaling, Arung Bondan belajar berbagai ilmu. Ia juga belajar pada seorang  guru yang pandai pengobatan dan pertukangan. Ia pun menjumpai seorang Brahmana dari India dan belajar ilmu agama padanya. Ketika seorang biksu datang dari Swarnadipa ke Kaling, ia pergunakan kesempatan itu untuk belajar meditasi. Semakin lama ilmu yang didapat Arung Bondan semakkin banyak. Berkat kerja keras dan ketekunannya, ia menjadi seorang yang cerdik pandai. Para dewa senang melihat kerja keras Arung Bondan, dan para dewa melimpahinya dengan kepandaian.
Setelah merasa cukup dengan ilmu yang didapat, Arung Bondan pulang ke Medang Kamulan di Pulau Jawadwipa. Ia mengembangkan ilmu yang diperolehnya di Medang Kamulan. Arung Bondan tidak pernah merasa puas dengan ilmu yang telah dimilikinya. Ia mendengar bahwa di Rajekwesi, negeri di sebelah timur Medang Kamulan, ada seorang raja yang bernama Angling Darma yang mengerti bahasa hewan.
“Bapak, izinkanlah saya untuk mencari ilmu ke Rajekwesi. Saya ingin berguru pada Prabu Angling Darma.”
“Anakku, bukankah kau sudah menguasai berbagai ilmu? Tidakkah kau mulai memikirkan untuk berumah tangga sebab teman-teman seusiamu sudah memiliki anak?”
“Tetapi saya ingin sekali berguru pada Prabu Angling Darma. Seklai ini saja Bapak, dan setelah pulang dari Rajekwesi saya akan memenuhi keinginan Bapak untuk berumah tangga,” ujar Arung Bondan memohon dengan sangat.
“Kalau kau sudah bertekad bulat, Bapak tidak bisa menahanmu. Bapak merestui kepergianmu, tetapi  jangan berlama-lama seperti ketika kau merantau ke Kaling beberapa waktu yang lalu.”
“Terima kasih, Bapak. Arung Bondan mohon pamit.”
Arung Bondan segera pergi ke Rajekwesi. Ia ingin secepatnya berguru pada Prabu Angling Darma. Sesampai di Rajekwesi, ia tidak mengalami kesulitan yang berarti untuk menjumpai Prabu Angling Darma.
“Hamba datang dari negeri Medang Kamulan karena hamba mendengar kepandaian Prabu Angling Darma. Bolehkah hamba menjadi murid Prabu?”
“Tentu saja boleh. Saya sangat senang ada anak muda yang gemar belajar, bahkan datang dari tempat yang jauh dari sini.”
Perkataan Prabu Angling Darma menggembirakan hati Arung Bondan.
Beberapa saat lamanya, Arung Bondan belajar di Rajekwesi. Prabu Angling Darma sangat senang melihat muridnya. Arung Bondan adalah seorang anak  muda yang cerdas dan berbakat serta rajin belajar.
Setelah dirasa cukup, Prabu Anling Darma berkata kepada Arung Bondan,”Anakku segala ilmu telah kuberikan kepadamu dank au adalah anak yeng tekun sehingga dengan cepat ka umenyerap segala ilmu yang telah aku ajarkan. Sekarang pulanglah kenegerimu, Medang Kamulan dan amalkan ilmu untuk kebaikan semua makhluk hidup di bumi. Pasti bapak dan ibumu sudah lama menantimu pulang.”
“Terima kasih hamba yang tidak terkira kepada Prabu. Semoga segala pesan dan nasihat Prabu dapat hamba laksanakan, “kata Arung Bondan mohon pamit pada Prabu Angling Darma.
Namun, Arung Bondan tidak pulang ke Medang Kamulan. Ia pergi ke Swarna dwipa setelah mendengar kabar disana ada seorang guru yang sangat pandai. Ia ingin belajar di Swarnadipa sekaligus ingin melihat Pulau Swarnadipa. Perjalan Kepulau Swarnadipa sangat jauh. Berhari-hari Arung Bondan berlayar, namun ia merasa tidak lelah karena ia ingin terus belajar. Ia ingin menjadi orang yang pandai.
Akhirnya, Arung Bondan sampai di pulua Swarnadipa. Ia senang sekali sebab di negeri itu banyak sekolah yang mengajarkan berbagai ilmu. Murid-murid yang belajar di Swarnadipa datang dari berbagai negeri, bahkan ada murid yang berasal dari Tiongkok.
Beberapa tahun Arung Bondan belajar berbagai ilmu di Swarnadipa dan ini membuat dia semakin pandai. Namun, ia tidak sombong karena kepandaiannya itu. Akhirnya, ia memutuskan untuk pulang ke Medang Kamulan. Dengan hati yang senang, ia berlayar ke pulau Jawadwipa dan akhirnya sampai di Medang Kamulan.
Sesampainya di Medang Kamulan, Arung Bondan mendirikan padepokan. Banyak anak muda yang belajar padanya dan berbagai ilmu diajarkan kepada murid-muridnya. Orang-orang di desanya merasa senang sebab anak-anak mereka memperoleh pengetahuan yang sebelumnya tidak mereka miliki.
Arung Bondan terkenal sebagai ahli bangunan dan ahli ilmu pemerintahan. Ia sering dimintai tolong baik oleh rakyat biasa maupun raja untuk membangun rumah. Ia juga sering dimitai nasihat oleh para punggawa (pejabat) kerajaan tentang berbagai persoalan yang mereka hadapi.
Berkat kepandaian yang dimilikinya, Arung Bondan memiliki banyak sahabat di berbagai tempat. Apalagi ia tidak sombong dan suka membagi pengetahuannya kepada orang lain.
“Arung Bondan anakku, kau sudah menjadi orang yang pandai dan terkenal di seluruh Medang Kamulan ini. Namun, ada satu yang kurang…”
Arung Bondan memotong pembicaraan bapaknya, “Apa yang kurang, Bapak?”
“Kau belum beristri. Bapak ingin, sebelum meninggal kau telah beristri dan memiliki anak. Maukah kau memenuhi permintaan bapakmu yang sudah renta ini?”
Arung Bondan akhirnya menikah dengan gadis pilihannya. Setelah menikah, Arung Bondan bertapa di sebuah gunung. Para dewata berkenan atas laku tanpa Arung Bondan, maka Dewa member anugerah kepada Arung Bondan. Berkatalah Dewata kepada Arung Bondan.
“Inilah anugerah yang akan kau terima. Kelak  dikemudian hari, anak cucumu akan menjadi orang-orang yang pandai dan berkuasa. Dari anak cucumu akan lahir para patih di Jawadwipa dan juga para ahli bangunan”.
Arung Bondan pun pulang ke rumahnya. Beberapa tahun kemudian, Arung Bondan memiliki beberapa anak. Anak-anaknya menjadi orang pandai : ada yang menjadi patih, ada yang menjadi ahli pertukangan. Dari Arung BOndanlah asal dari para patih dan punggawa (pejabat) kerajaan-kerajaan di Jawa Kuno sehingga Arung Bondan disebut sebagai nenek moyang para patih dan pejabat tinggi kerajaan di zaman kuno. Dari Arung Bondan pula lahir orang-orang yang ahli bangunan sehingga Arung Bondan disebut sebagai nenek moyang para ahli bangunan di Pulau Jawa. 
Dikutip Dari Buku : Edi Sumartono (PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 2009)

Minggu, 06 April 2014

Asal Usul Nama Blora

Setelah Prabu Airlangga melebarkan kekuasaannya dengan menaklukan Kerajaan Wengker, Wurawuri, dan wilayah lainnya,, Prabu Airlangga beruha memakmurkan rakyatnya dengan membuat tanggul didaerah wringinsapta. Selain untuk mengendalikan banjir dari sungai brantas, tanggul ini juga untuk mangairi sawah dan untuk memajukan perdagangan. Prabu Airlangga memperbaiki pelabuhan Hujung Galuh di muara Sungai Brantas dan Pelabuhan Kembang Putih (Tuban). Prabu Airlangga juga memerintahkan Mpu Kanwa untuk menulis kita Arjuna Wiwaha dan mengembangkan wayang kulit.
      Prabu Airlangga memiliki tiga orang anak, yang pertama perempuan, dan yang kedua serta yang ketiga laki-laki. Anak perempuannya menduduki jabatan sebagai Mahamantri dengan gelar Sanggramawiajaya, yang menduduki tempat tertingga sesudah raja. Sang putri ini nantinya akan menggantikan takhta kerajaan untuk menggantikannya sebagai raja di Kahuripan. 
      “Apa yang membuat engkau tidak bersedia menggantikan ayahanda sebagai raja di Kahuripan anakku? Ayahanda ingin mengetahui alasanmu.”
      “Ampun seribu ampun ayahanda, aku menolak kedudukan raja bukan karena aku tidak menghormati ayahanda. Aku ingin menjadi seorang Brahmani yang mendalami agama. AKu akan tinggal di lereng Gunung Penanggungan. Itulah panggilan hidupku ayahanda.”
      “Kalau kau benar kau benar-benar meninggalkan istana, lalu siapa yang akan meneruskan takhta Kahuripan?”
      “Bukankah aku punya dua adik lelaki Prabu Airlangga mendengar bahwa kakak perempuan mereka tidak mau menjadi raja di Kahuripan, mereka bertengkar dan berebut takhta Kahuripan.
Semakin lama pertengkaran mereka semakin meruncing sehingga menyusahkan hati Prabu Airlangga. Oleh karena itu, Prabu Airlangga berkata pada putrinya, “Anakku, keputusanmu untuk tidak menerima takhta Kahuripan membuat adik-adikmu berebut takhta. Bagaimana kita harus mengatasinya?”
“Ayahanda Prabu, kalau Ayahanda berkenan aku hendak menyampaikan satu usul.”
“Katakanlah anakku, ayahanda akan senang mendengarnya. Ayah yakin usulmu pasti baik dan tulus. “Prabu Airlangga gelisah menunggu jawaban putrinya
“Kahuripan dibagi menjadi dua,”kata Sanggramawijaya.
“Anakku, dengan susah payah kusatukan Kahuripan dan sekaran aku harus membaginya..,” ujar Prabu Airlangga dengan tegang.
“Ayahanda itulah jalan yang paling aman dan tidak menimbulkan pertumpahan darah.”
“Lalu siapa yang harus membaginya?”
“Mpu Baradah,”jawab Sanggramawijaya dengan mantap.
Prabu Airlangga pun mengadakan pertemuan dengan para punggawa (pejabat) kerajaan untuk membahas usul Sanggramawijaya. Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya pertemuan itu menyetujui usul Sanggramawijaya. Prabu Airlangga mengutus dua orang duta atau utusan untuk meminta bantuan Mpu Baradah. Mpu Baradah adalah seorang yang pandai dan memiliki cinta yang besar kepada sesame. Ia juga seorang yang rajin beribadah dan taat pada Tuhan. Mpu Baradah juga pernah menolong Prabu Airlangga ketika Calonarang menyebar penyakit di Kahuripan. Pada hari itu juga, dua orang utusan Prabu Airlangga berangkat menjumpai Mpu Baradah.
Setelah berhari-hari dua orang utusan Prabu Airlangga berkuda, akhirnya mereka sampai di tempat tinggal Mpu Baradah.
“Maaf, Saudara ini dari mana dan apakah keperluan Saudara di sini. Apakah yang dapat saya bantu untuk Saudara?” Tanya murid Mpu baradah kepada utusan Prabu Airlangga.
“Kami utusan Prabu Airlangga. Kami ingin bertemu dengan Mpu Baradah. Ada pesan dari Prabu Airlangga yang harus saya sampaikan kepada Mpu Baradah,”jawab kedua utusan Prabu Airlangga.
Murid Mpu Baradah mengajak masuk utusan Prabu Airlangga. Mereka diterima Mpu Baradah di padepokan.
“Ada perlu apa Prabu Airlangga mengutus kalian kesini?”
“Prabu Airlangga ingin membagi negeri Kahuripan menjadi dua bagian untuk kedua anak laki-lakinya, sebab Sanggramawijaya tidak bersedia menjadi ratu di Kahuripan. Agar pembagian itu adil, Prabu Airlangga bermaksud meminta bantuan Mpu Baradah untuk melakukan pembagian negeri Kahuripan. Bila bukan sang Mpu yang melakukannya, Prabu Airlangga khawatir aka nada perselisihan di antara kedua putranya. Prabu Arilangga sangat berharap Mpu Baradah mau melakukannya,” kata utusan Prabu Airlangga memohon dengan hati berdebar-debar.
“Aku mau melakukannya,”jawab Mpu Baradah.”Tetapi yang aku lakukan demi rakyat Kahuripan agar mereka tidak menderita karena perang saudara memperebutkan takhta.”
Mendengar kesediaan Mpu Baradah itu, utusan Prabu Airlangga sangat senang dan mereka segera pamit untuk kembali ke istana. Mpu Baradah meminta agar mereka mennginap, tetapi mereka tidak bersedia.
Setelah berpamitan dengan Mpu Baradah, mereka segera mencambuk kuda mereka dan mereka melesat bagai kilat meninggalkan Mpu Baradah.
Mpu Baradah sedih dan mencemaskan masa depan Kahuripan. Ia kemudian berkemas dan menyiapkan segala perlengkapan untuk melaksanakan tugas membagi Kahuripan menjadi dua.
Ketika saatnya dirasa tepat, Mpu Baradah pergi ke Istana Kahuripan menghadap Prabu Airlangga. Betapa senang hati Prabu Airlangga mendengar kesediaan Mpu Baradah membagi Kahuripan menjadi dua.
“Segera laksanakan saja Mpu Baradah agar kedua anakku tidak terus bertikai. Dan setelah pembagian itu, aku segera mengikuti Sanggramawijaya ke lereng Gunung Penanggungan untuk mendekatkan diri kepada TUhan.”
“Baiklah Baginda. Namun, sebelum hamba melaksanakan tugas ini, hamba hendak menyampaikan isi hati hamba. Pembagian Kahuripan ini hamba terima semata-mata hanya untuk menghindari perang saudara memperebutkan takhta. Bukankah kalau terjadi perang akan merugikan rakyat Kahuripan?”
Dengan hati yang teramat sedih, Mpu Baradah membagi negeri Kahuripan menjadi dua kerajaan. Yang satu diberi nama Jenggala atau Singasari dengan ibukota Kahuripan dan yang satu lagi diberi nama Panjalu atau Kediri dengan ibu kota Daha. Mpu Baradah menggunakan Gunung Kawi sebagai batas dua kerajaan tersebut. Kediri berada disebelah barat Gunung Kawi, sedangkan Singasari berada di sebelah timur Gunung Kawi.
      Setelah pembagian negeri Kahuripan, Raja Airlangga menganugerahkan kepada Mpu Baradah sebidang tanah yang cukup luas. Tanah yang ditinggali Mpu Baradah lalu diberi nama Bhurara. Bhurara berasal dari kata bumi yang artinya ‘tanah’, dan kata rara yang artinya ‘anak’. Jadi, Bhurara berarti ‘tanah yang diberikan raja kepada seorang anak atau orang yang berjasa kepada negara’. Oleh penduduk yang tinggal disekitarnya, nama Bhurara sering diucapkan Wurara atau wurare. Lambat laun nama Bhurara berubah menjadi Blura dan selanjutnya menjadi BLORA sampai hari ini. Demikkianlah asal usul nama BLORA.


Dikutip Dari Buku :
Edi Sumartono (PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 2009)