Pages

Senin, 07 April 2014

Arung Bondan



Alkisah ada seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa, Aarung Bondan namanya. Tidak seperti pemuda-pemuda lain yang gemar berburu binatang di hutan, memancing di sungai atau berlatih menggunakan senjata, Arung Bondan suka berguru pada orang-orang pintar dan bertapa memohon kemurahan dewata.
Pada suatu hari, Arung Bondan memohon do’a restu pada bapak ibunya meninggalkan Medang Kamulan untuk belajar pada seorang guru yang sakti. Ia berlayar menyeberangi selat yang memisahkan Pulau Majeti dan Pulau Jawa. Pulau Majeti berada di sebelah utara Pulau Jawadipa. Setelah mendarat di Pulau Majeti, Arung Bondan pergi ke Kaling dan menjumpai guru yang pandai.
“Bapak Guru, terimalah hamba ini sebagai murid. Hamba ingin menjadi orang yang pandai,” Arung Bondan menyampaikan maksudnya kepada seorang Guru yang pandai di Kaling.
“Baiklah, aku akan menerima kau sebagai muridku asalkan kau rajin belajar dan tidak malas. Dan setelah kau memiliki ilmu, kau harus mengamalkan dalam hidupmu. Apakah kau bersedia menerima syarat itu?” Tanya sang guru.
“Hamba bersedia Bapak Guru.”
Selama di Kaling, Arung Bondan belajar berbagai ilmu. Ia juga belajar pada seorang  guru yang pandai pengobatan dan pertukangan. Ia pun menjumpai seorang Brahmana dari India dan belajar ilmu agama padanya. Ketika seorang biksu datang dari Swarnadipa ke Kaling, ia pergunakan kesempatan itu untuk belajar meditasi. Semakin lama ilmu yang didapat Arung Bondan semakkin banyak. Berkat kerja keras dan ketekunannya, ia menjadi seorang yang cerdik pandai. Para dewa senang melihat kerja keras Arung Bondan, dan para dewa melimpahinya dengan kepandaian.
Setelah merasa cukup dengan ilmu yang didapat, Arung Bondan pulang ke Medang Kamulan di Pulau Jawadwipa. Ia mengembangkan ilmu yang diperolehnya di Medang Kamulan. Arung Bondan tidak pernah merasa puas dengan ilmu yang telah dimilikinya. Ia mendengar bahwa di Rajekwesi, negeri di sebelah timur Medang Kamulan, ada seorang raja yang bernama Angling Darma yang mengerti bahasa hewan.
“Bapak, izinkanlah saya untuk mencari ilmu ke Rajekwesi. Saya ingin berguru pada Prabu Angling Darma.”
“Anakku, bukankah kau sudah menguasai berbagai ilmu? Tidakkah kau mulai memikirkan untuk berumah tangga sebab teman-teman seusiamu sudah memiliki anak?”
“Tetapi saya ingin sekali berguru pada Prabu Angling Darma. Seklai ini saja Bapak, dan setelah pulang dari Rajekwesi saya akan memenuhi keinginan Bapak untuk berumah tangga,” ujar Arung Bondan memohon dengan sangat.
“Kalau kau sudah bertekad bulat, Bapak tidak bisa menahanmu. Bapak merestui kepergianmu, tetapi  jangan berlama-lama seperti ketika kau merantau ke Kaling beberapa waktu yang lalu.”
“Terima kasih, Bapak. Arung Bondan mohon pamit.”
Arung Bondan segera pergi ke Rajekwesi. Ia ingin secepatnya berguru pada Prabu Angling Darma. Sesampai di Rajekwesi, ia tidak mengalami kesulitan yang berarti untuk menjumpai Prabu Angling Darma.
“Hamba datang dari negeri Medang Kamulan karena hamba mendengar kepandaian Prabu Angling Darma. Bolehkah hamba menjadi murid Prabu?”
“Tentu saja boleh. Saya sangat senang ada anak muda yang gemar belajar, bahkan datang dari tempat yang jauh dari sini.”
Perkataan Prabu Angling Darma menggembirakan hati Arung Bondan.
Beberapa saat lamanya, Arung Bondan belajar di Rajekwesi. Prabu Angling Darma sangat senang melihat muridnya. Arung Bondan adalah seorang anak  muda yang cerdas dan berbakat serta rajin belajar.
Setelah dirasa cukup, Prabu Anling Darma berkata kepada Arung Bondan,”Anakku segala ilmu telah kuberikan kepadamu dank au adalah anak yeng tekun sehingga dengan cepat ka umenyerap segala ilmu yang telah aku ajarkan. Sekarang pulanglah kenegerimu, Medang Kamulan dan amalkan ilmu untuk kebaikan semua makhluk hidup di bumi. Pasti bapak dan ibumu sudah lama menantimu pulang.”
“Terima kasih hamba yang tidak terkira kepada Prabu. Semoga segala pesan dan nasihat Prabu dapat hamba laksanakan, “kata Arung Bondan mohon pamit pada Prabu Angling Darma.
Namun, Arung Bondan tidak pulang ke Medang Kamulan. Ia pergi ke Swarna dwipa setelah mendengar kabar disana ada seorang guru yang sangat pandai. Ia ingin belajar di Swarnadipa sekaligus ingin melihat Pulau Swarnadipa. Perjalan Kepulau Swarnadipa sangat jauh. Berhari-hari Arung Bondan berlayar, namun ia merasa tidak lelah karena ia ingin terus belajar. Ia ingin menjadi orang yang pandai.
Akhirnya, Arung Bondan sampai di pulua Swarnadipa. Ia senang sekali sebab di negeri itu banyak sekolah yang mengajarkan berbagai ilmu. Murid-murid yang belajar di Swarnadipa datang dari berbagai negeri, bahkan ada murid yang berasal dari Tiongkok.
Beberapa tahun Arung Bondan belajar berbagai ilmu di Swarnadipa dan ini membuat dia semakin pandai. Namun, ia tidak sombong karena kepandaiannya itu. Akhirnya, ia memutuskan untuk pulang ke Medang Kamulan. Dengan hati yang senang, ia berlayar ke pulau Jawadwipa dan akhirnya sampai di Medang Kamulan.
Sesampainya di Medang Kamulan, Arung Bondan mendirikan padepokan. Banyak anak muda yang belajar padanya dan berbagai ilmu diajarkan kepada murid-muridnya. Orang-orang di desanya merasa senang sebab anak-anak mereka memperoleh pengetahuan yang sebelumnya tidak mereka miliki.
Arung Bondan terkenal sebagai ahli bangunan dan ahli ilmu pemerintahan. Ia sering dimintai tolong baik oleh rakyat biasa maupun raja untuk membangun rumah. Ia juga sering dimitai nasihat oleh para punggawa (pejabat) kerajaan tentang berbagai persoalan yang mereka hadapi.
Berkat kepandaian yang dimilikinya, Arung Bondan memiliki banyak sahabat di berbagai tempat. Apalagi ia tidak sombong dan suka membagi pengetahuannya kepada orang lain.
“Arung Bondan anakku, kau sudah menjadi orang yang pandai dan terkenal di seluruh Medang Kamulan ini. Namun, ada satu yang kurang…”
Arung Bondan memotong pembicaraan bapaknya, “Apa yang kurang, Bapak?”
“Kau belum beristri. Bapak ingin, sebelum meninggal kau telah beristri dan memiliki anak. Maukah kau memenuhi permintaan bapakmu yang sudah renta ini?”
Arung Bondan akhirnya menikah dengan gadis pilihannya. Setelah menikah, Arung Bondan bertapa di sebuah gunung. Para dewata berkenan atas laku tanpa Arung Bondan, maka Dewa member anugerah kepada Arung Bondan. Berkatalah Dewata kepada Arung Bondan.
“Inilah anugerah yang akan kau terima. Kelak  dikemudian hari, anak cucumu akan menjadi orang-orang yang pandai dan berkuasa. Dari anak cucumu akan lahir para patih di Jawadwipa dan juga para ahli bangunan”.
Arung Bondan pun pulang ke rumahnya. Beberapa tahun kemudian, Arung Bondan memiliki beberapa anak. Anak-anaknya menjadi orang pandai : ada yang menjadi patih, ada yang menjadi ahli pertukangan. Dari Arung BOndanlah asal dari para patih dan punggawa (pejabat) kerajaan-kerajaan di Jawa Kuno sehingga Arung Bondan disebut sebagai nenek moyang para patih dan pejabat tinggi kerajaan di zaman kuno. Dari Arung Bondan pula lahir orang-orang yang ahli bangunan sehingga Arung Bondan disebut sebagai nenek moyang para ahli bangunan di Pulau Jawa. 
Dikutip Dari Buku : Edi Sumartono (PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 2009)

0 komentar:

Posting Komentar